• gallery
  • gallery

BBWM Raih “The Best Regional State Owned Enterprise 2018”

Perusahaan Migas Daerah Kabupaten Bekasi, PT Bina Bangun Wibawa Mukti (BBWM) makin kokoh sebagai BUMD Migas terbaik. Predikat tersebut didapat setelah perusahaan yang dipimpin Prananto Sukodjatmoko itu meraih menghargaan “The Best Regional State Owned Enterprise 2018” dari PT Pertamina Eksplorasi, pada 1 Februari 2019 lalu.

 

Menurut Prananto, penghargaan diberikan kepada BBWM karena telah berhasil membuat inovasi pengolahan gas flare pada LPG Tambun, Kabupaten Bekasi. “Alhamdulillah, kami bersukur berkat dukungan seluruh masyarakat Kabupaten Bekasi dan kerja keras seluruh karyawan BBWM berhasil meraih penghargaan. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk selalu memberikan yang terbaik,” terang Prananto, setelah menerima penghargaan itu.

 

Penghargaan sebagai “The Best Regional State Owned Enterprise 2018” diberikan pada acara Malam Apresiasi Pencapaian Lifting Minyak & Gas 2018, 29.1 Million Barrels of Oil & 296 Billion SCF of Natural Gas “Empowering Nation in Harmony” yang diselenggarakan di Hotel Intercontinental, Bandung. Sebanyak 40 perusahaan pengelola Migas dari seluruh Indonesia hadir dalam acara tersebut.

 

Menurut Prananto, BBWM berhasil mencacatkan diri sebagai perusahaan Migas milik pemerintah daerah dengan predikat terbaik di tingkat nasional. Salah satu inovasi yang dilakukan oleh PT BBWM adalah gas terproses, yang diprediksi mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bekasi, dari tahun ke tahun.

 

Gas terproses adalah proses pembersihan gas flare atau gas buang dari sumur eksplorasi minyak bumi menjadi gas bersih. Gas bersih hasil olahan PT BBWM tersebut kemudian dijual kembali ke PT Pertamina.

 

Menariknya, pengolahan gas terproses dilakukan secara mandiri di LPG Tambun milik PT BBWM. LPG ini awalnya dikelola secara bersama dengan PT Odira Energy Persada, dan sejak 2017 lalu PT BBWM mengambil alih kepemilikan penuh melalui sistem perjanjian build operate and transfer (BOT). “Setelah kepemilikan penuh ada di PT BBWM maka pendapatan bisa naik minimal 10 persen,” kata Prananto.

 

Prananto menjelaskan, keputusan konsentrasi pada gas terproses cukup baik ketimbang perusahaan bertahan dengan pola bisnis lama yaitu jual beli putus. Apalagi penyerapan di hilir kurang baik.

 

Kapasitas produksi kilang LPG Tambun sempat alami penurunan di tahun tahun lalu karena beberapa faktor. Di antaranya, harga minyak dunia anjlok. Pada periode 2014 harga minyak di tingkat dunia mencapai USD 100 per barel, namun memasuki bulan Juni pada tahun yang sama anjlok menjadi USD 50 per barel.

Kenaikan hanya terjadi pada bulan Mei 2015 menjadi USD 61 per barel. Harga minyak dunia itu mempengaruhi harga propane butane atau bahan dasar elpiji ikut turun pada periode yang sama. Awalnya harga propane butanesebesar USD1.000 per ton, turun menjadi USD 400 per ton, bahkan pada periode Juli 2016 hanya ada pada kisaran USD 200 per ton. Sebab lain menurunnya produksi elpiji di Kilang Tambun adalah volume gas flare dari Kilang Tambun dan Pondok Tengah berkurang. “Kalau sekarang ini kondisinya sudah membaik,” terang Prananto.

Senior Manager PT BBWM Hilaludin Yursi mengungkapkan, penghargaan yang diterima PT BBWM menjadi indikator keberhasilan perusahaan tersebut mengelola gas flare. “Kami berterima kasih kepada semua pihak termasuk PT Pertamina yang telah mempercayakan kepada BBMW mengolah gas buang dari sumur ekplorasi,” ungkapnya *